Senin, 17 Maret 2014

Tahun 2014, Kependudukan Indonesia Alami Triple Burden

JAKARTA, bkkbn online
   
Badan Pusat Statistik memproyeksikan penduduk pada tahun 2014 terdapat balita dan anak usia 0-9 tahun jumlahnya mencapai 47,2 juta, remaja 10-24 tahun 65,7 juta serta lansia (usia 60 tahun ke atas) berjumlah 20,8 juta jiwa.

Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof Dr Fasli Jalal, PhD, SpGK, menunjukkan Indonesia mengalami triple burden, bebannya sekaligus tiga, yaitu situasi dimana proporsi dan jumlah balita, anak, remaja dan lansia lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia produktif sehingga meningkatkan beban ketergantungan (dependency ratio).

Pada kelompok usia remaja masih banyak permasalahan yang dihadapi, antara lain rendahnya usia kawin pertama wanita, kehamilan yang tidak diinginkan, seksualitas pra nikah, narkoba dan berbagai masalah lainnya yang berpotensi membuat masa depan remaja itu menjadi suram, dan akhirnya  mempengaruhi masa depan bangsa.  “Ini yang menyebabkan kualitas SDM Indonesia masih rendah, pada 2012 menduduki urutan ke 121 dari 187 negara,” kata Fasli di Jakarta, Kamis (14/3).

Oleh karena itu, BKKBN menyikapinya dengan menggelorakan program pembangunan keluarga yang dilaksanakan dengan pendekatan siklus kehidupan yakni pembinaan terhadap balita dan anak, remaja, lansia, dan peningkatan kesejahteraan keluarga. “Kondisi ini harus dicermati secara serius dengan program yang komprehensif dan sistematis agar masa depan anak Indonesia cemerlang,” ujarnya.

“Kita harus memperhatikan betul siklus hidup manusia dari masih dalam kandungan hingga meninggal nanti untuk memastikan sepanjang hidup menjadi hidup yang berkualitas. BKKBN ingin membangun keluarga di Indonesia senantiasa bahagia dan sejahtera. Jadi siklus hidup mau kita bangun di kependudukan,” ujarnya.

Upaya itu, antara lain melalui upaya membekali wawasan kepada 2,5 juta pasangan calon pengantin yang akan membangun keluarga agar memahami soal keluarga berencana dan pembangunan keluarga. Untuk mencari data calon pengantin tersebut BKKBN sudah berkoordinasi dengan kemenrtrian agama dan KUA terkait data warga yang akan menikah.

Calon pengantin perlu memahami kapan sebaiknya hamil, kapan akan hamil yangkedua, dan setelah lahir bagaimana pengasuhan anak yang baik “Sudah ada model sistemasi yang sudah dilakukan masyarakat mengenai calon pengantin.  Banyak yang masih bingung apa yang harus disiapkan, sehingga banyak mudah bercerai. Jadi kursus calon pengantin itu sangat penting,” kata Fasli.(kkb2)

Pelatihan Remaja melalui Life Skill menjadi Konselor Sebaya



Untuk menghadapi berbagai tantangan pada saat ini, Remaja perlu dibantu dan difasilitasi dengan berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut diantaranya Keterampilan Hidup (Life Skills). Konsep Keterampilan Hidup yang diuraikan dalam buku ini jauh lebih luas dari keterampilan yang pada umumnya dikembangkan. Keterampilan Hidup dalam Program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) yang dibahas dalam buku ini mencakup : 1). Keterampilan Fisik yang intinya adalah bagaimana menyeimbangkan antara nutrisi, olah raga, dan istirahat; 2). Keterampilan Mental yang intinya adalah bagaimana berpikir secara positif; 3). Keterampilan Emosional yang intinya adalah bagaimana berkomunikasi dengan orang lain secara efektif; 4). Keterampilan Spiritual yang intinya adalah bagaimana bersyukur dan berdoa untuk memperoleh keridoan Allah SWT; 5) Keterampilan Vokasional yang
intinya adalah bagaimana menjadikan hobi dan bakat menjadi usaha untuk hidup mandiri; 6). Keterampilan Adversity yang intinya adalah bagaimana menghadapi kesulitan hidup dengan mengubah hambatan menjadi peluang. Diharapkan buku ini bisa menjadi bagian dari materi Program PKBR, sehingga Pendidikan Sebaya, Konselor Sebaya dan berbagai kegiatan latihan remaja dalam program PKBR dapat menginformasikan, membahas serta mendiskusikan materi Keterampilan Hidup ini secara lebih mendalam. Keenam materi Keterampilan Hidup yang diuraikan dalam buku ini diharapkan akan mampu memperkuat ketegaran remaja dalam menghadapi berbagai tantangan dan resiko kehidupan yang ada disekitarnya. Buku ini adalah hasil dari studi dan diskusi yang cukup panjang di lingkungan Direktorat Remaja dan PHR. Sudah barang tentu buku ini masih jauh dari sempurna, terutama sekali dalam gaya bahasa dan tata penyajiannya. Oleh sebab itu kepada semua pihak yang telah membantu sehingga buku ini bisa dicetak, dan kepada siapa saja yang sempat membaca kemudian memberikan saran perbaikan, kami ucapkan banyak terima kasih.

Panduan Program BKR (Bina Keluarga Remaja)

Mau download Buku Panduan BKR Klik disini Panduan BKR

Organ Reproduksi Belum Matang, Ini Akibatnya Pernikahan Dini

 
Kendari, Pernikahan dini tidaklah semanis cerita di opera sabun atau sinetron. Jauh dari romantisme, belum matangnya organ reproduksi pada remaja yang menikah muda membuatnya terancam berbagai masalah, mulai dari gangguan fisik, psikologis, hingga kekerasan dalam rumah tangga.


"Belum matangnya organ reproduksi menyebabkan pelaku pernikahan dini umur 10-14 tahun 5 kali lebih besar mengalami kematian saat melahirkan. Pada remaja usia 15-20 tahun, risikonya 2 kali lipat," jelas Shauqi Maulana, Duta Mahasiswa Genre Tingkat Nasional 2012, dalam acara 'Seminar Remaja dalam Rangka Hari Keluarga XX Tingkat Nasional' di Hotel Azahra, Kendari, Rabu (26/6/2013).

Selain itu, belum matangnya organ reproduksi menyebabkan wanita yang menikah di usia muda berisiko terhadap berbagai penyakit mengerikan, seperti kanker serviks, kanker payudara, mioma dan kanker rahim.

Secara psikologis, mental remaja juga belum siap untuk menghadapi berbagai masalah dalam pernikahan. Akibatnya, banyak terjadi perceraian di usia muda dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut hasil riset, 44 persen pelaku pernikahan dini mengalami KDRT frekuensi tinggi, dan 56 persen mengalami KDRT frekuensi rendah.

"Masih pacaran aja berantem sedikit langsung galau. Belum siap mental pria jangan dipaksakan menikah, nanti dikit-dikit main tangan," ujar alumni Fakultas Komunikasi, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin ini.

Belum lagi soal pendidikan yang terbengkalai. Menurut riset, hanya 0,02 persen pelaku pernikahan dini yang dapat melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi.

Uqi mengatakan, perilaku seksual menyimpang juga tinggi di kalangan remaja yang menikah dini. Hal ini dipicu akibat maraknyaa video porno, yang membuat banyak remaja ingin mencoba-coba.

"Belum waktu dan tempatnya tapi sudah dilakukan. Akhirnya menimbulkan penyakit," tutur Uqi.

Dengan adanya Genre (Generasi Berencana) dan program Penundaan Usia Perkawinan (PUP), idealnya wanita menikah di atas usia wanita 20 tahun dan pria 25 tahun. Usia tersebut dianggap sudah baik dan matang untuk organ reproduksi wanita, melahirkan, mengatur perekonomian dan keluarga.
(Sumber : http://ceria.bkkbn.go.id/index.php/2013-12-13-08-30-23/artikel/item/48-organ-reproduksi-belum-matang-ini-akibatnya-pernikahan-dini)

Pik Apphaan Sich?


PIK itu Pusat Informasi dan Konseling Remaja